Sang ibu mencoba menjelaskan bahwa jika si anak tidak mendapatkan nilai-nilai yang bagus (ranking tiga besar, misalnya) maka ia akan kesulitan untuk bisa masuk perguruan tinggi yang bagus.
Sang anak mementahkan jawaban sang ibu dengan kalimat, "Daripada berjuang masuk perguruan tinggi, saya akan berjuang untuk menjadi orang kaya"
"Tapi bagaimana kamu akan menjadi kaya kalau kamu tidak masuk perguruan tinggi, mendapatkan nilai-nilai bagus untuk dipergunakan ketika melamar pekerjaan di perusahaan terkemuka?". balas sang ibu. "Bu, lihatlah di sekeliling kita. Orang jadi kaya tidak disebabkan karena pendidikan formal yang mereka miliki. lihat para artis. Bahkan Bill Gates keluar dari Universitas Harvard dan mendirikan Microsoft. sekarang ia adalah orang paling kaya di dunia". jawab si remaja meng-Ko ibunya.
Mungkin kita pernah mendengar dialog ini, atau bahkan mengalaminya. Entah dalam bentuk yang sebenarnya maupun di alam pikiran kita. Logis memang jawaban sang anak ketika menjawab pertanyaan sang ibu. Jika pendidikan yang diraih selama ini hanya berujung untuk memperoleh harta dan kesejahteraan hidup, mengapa tidak menempuhnya sejak awal. Melalui bisnis atau investasi hal itu bisa memperoleh kekayaan tanpa perlu berputar melalui pendidikan. Seperti yang diajarkan oleh pengusaha besar keturunan Jepang-Amerika, Robert T Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad yang menjadi best seller di tahun 2000-an.
Pelajaran penting yang dapat disimpulkan dari kedua ayah yang diceritakan oleh Kiyosasi dalam buku tersebut acapkali bertentangan satu sama lain, antara lain:
- Ayah yang miskin mengajarkan "Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan", sedangkan ayah kaya mengajarkan "Kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan"
- Ayah yang miskin sering mengatakan "I can't afford it", sementara ayah yang kaya sering bertanya, "How can I aaford it?".
- Ayah yang miskin mengatakan,"Orang kaya harus membayar pajak lebih besar untuk menolong mereka yang kurang beruntung hidupnya", sementara ayah yang kaya mengatakan, "Aturan perpajakan menghukum orang yang produktif, dan memberi hadiah kepada mereka yang tidak produktif"
- Ayah yang miskin mengajarkan, "Belajarlah yang serius dan kamu akan mendapatkan perusahaan yang baik tempat bekerja nantinya", sementara ayah yang kaya mengatakan "Belajarlah yang tekun supaya kamu dapat memperoleh perusahaan yang bagus untuk dibeli."
- Ayah yang miskin mengatakan, "Saya tidak bisa kaya karena harus membiayai anak-anak seperti kamu", sedangkan ayah yang kaya mengatakan, "Saya harus kaya sebab anak-anak seperti kamu perlu biaya besar".
- Ayah yang miskin melarang pembicaraan tentang uang saat makan, sedangkan ayah yang kaya mengajak diskusi soal-soal uang di meja makan.
- Ayah yang miskin menganjurkan, "Gunakan uang secara aman, jangan mengambil resiko", sedangkan ayah kaya menganjurkan, "Belajarlah mengelola resiko-resiko".
- Ayah yang miskin mengatakan, "Rumah kita adalah invetasi dan aset kita yang terbesar", sementara ayah yang kaya mengatakan, "Bila rumah kamu merupakan investasi yang terbesar, kamu dalam kesulitan"
- Ayah yang miskin membayar tagihan-tagihan lebih dahulu, sementara ayah yang kaya membayar tagihan-tagihan belakangan.
- Ayah yang miskin percaya bahwa perusahaan dan pemerintah akan mengurus kebutuhan-kebutuhan kita, sedangkan ayah yang kaya mengandalkan kemandirian finansialnya sendiri.
- Ayah yang miskin menganjurkan untuk menabung sebanyak mungkin (dan biasanya tidak banyak), sedangkan ayah yang kaya menganjurkan untuk berinvestasi sebanyak mungkin.
- Ayah yang miskin mengajarkan cara menulis curriculum vitae yang bagus agar mendapatkan pekerjaan yang bagus, sedangkan ayah yang kaya mengajarkan bagaimana menulis proposal bisnis yang bagus supaya dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
- Ayah yang miskin mengatakan, "Saya tidak akan pernah kaya", sedangkan ayah yang kaya mengatakan "Saya orang kaya, dan orang kaya tidak melakukan ini dan itu".
- Ayah yang miskin mengatakan, "Uang tidak penting", sementara ayah yang kaya mengatakan, "Uang adalah kekuasaan".
- Ayah yang miskin bekerja keras untuk mendapatkan uang, sementara ayah yang kaya membuat uang bekerja bagi dirinya.
- Ayah yang miskin mengajarkan, "Jadilah seorang spesialis, ketahuilah banyak hal tentang sesuatu yang khusus", sedangkan ayah yang kaya mengajarkan, "Ketahuilah serba sedikit tentang banyak hal, jadilah generalis".
Namun, ada yang mengganjal di hati bila asumsi tentang pendidikan/pengajaran yang baik akan bermuara pada kesempatan untuk menjadi kaya raya. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa orang yang benar-benar "terpelajar" itu harus menjadi orang yang kaya raya. Kalau orang menjadi miskin "raya", maka yang salah pastilah pendidikan/pengajarannya. Jadi apakah kualitas output pembelajaran dihitung secara demikian. Semoga saja saya keliru.
Menjadi kaya itu adalah pilihan, sekalipun orang dimungkinkan untuk menjadi kaya ia dapat memilih untuk tidak menjadi demikian. ada pilihan lain yang yang boleh jadi adalah panggilan hidup pribadinya. Sang Budha misalnya, memilih untuk meninggalkan tahta dan kekayaan guna mengejar kebijaksaan. Bunda Teresha tak merasa perlu berjuang menjadi orang kaya raya, tetapi lebih memilih untuk tetap miskin dan melayani orang miskin. Konfucius memilih untuk menjadi orang terhormat ketimbang orang kaya. sementara Nabi Muhammad SAW dan Yesus Kristus mengajarkan pentingnya beriman dan bertakwa kepada Allah dalam keadaan kaya maupun miskin.
Dengan demikian, menjadi kaya sebenarnya hanya baik bila ia menjadi sasaran antara untuk dapat mencapai tujuan yang lebih mulia, yakni menjadi manusia yang utuh dalam arti:
- Dapat mencukupi nafkah hidup pribadi dan/atau keluarga.
- Dapat menjalankan peran sosialnya sebagai warga negara dan warga masyarakat dunia yang bertanggung jawab.
- Dapat bertumbuh secara mental-psikologis menjadi dewasa dan mandiri.
- Dapat membuatnya menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk moral-spiritual.
Wallahu 'alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar